Indeks saham di Asia mencatatkan kenaikan akhir pekan lalu mengikuti kinerja indeks saham di AS, sementara data ekonomi Jepang keluar impresif dan sempat membuat nilai tukar USD/JPY menembus level 105 untuk pertama kali dalam 5 tahun.

Jepang melaporkan kenaikan laju inflasi 1.2% (Y/Y) di bulan November, tertinggi dalam 5 tahun sementara upah reguler menghentikan trend penurunan yang sudah berlangsung 17 bulan beruntun, menggaris-bawahi kemajuan dibawah Abenomics pada 2 poin penting untuk merevitalisasi ekonomi Jepang.

Inflasi inti (Core CPI) naik 0.6% (Y/Y) di bulan November, tertinggi dalam 15 tahun. Data inflasi yang tinggi akan mendorong ekspektasi bahwa ekonomi sudah kembali pada jalur yang benar sehinga mengurangi kemungkinan Bank Of Japan akan menambah kebijakan stimulusnya  untuk lebjh memperlemah nilai tukar JPY.

Data lain memperlihatkan Industrial Production Jepang tumbuh untuk 3 bulan beruntun, penjualan ritel lompat 4% dan Tingkat pengangguran tetap di 4%, menambah tumpukan bukti bahwa pemulihan ekonomi terbesar ketiga di dunia sedang mendapat momentum.
IHSG naik tipis 10.1 poin (0.24%) dan di tutup di level 4213 sementara indeks saham Blue Chip LQ-45 hanya maju 0.3 poin (0.04%) dan stabil di level 701. Secara mingguan, IHSG dan LQ-45 masing masing naik 17.4 poin (0.42%) dan 3.3 poin (0.47%). Investor asing Jumat lalu menarik IDR4.61 triliun keluar dari pasar saham domestik sehingga menambah total net Sell asing minggu lalu menjadi IDR4.67 triliun.

Investor Eropa kembali dari libur natal selama 2 hari dan mendorong indeks saham Eropa menguat menyusul pergerakan indeks saham di AS seiring dengan menguatnya nilai tukar Euro terhadap USD ke level tertinggi dalam 2 tahun.

Indeks saham utama di Wall Street turun tipis karena investor mempertimbangkan dampak dari kenaikan suku bunga bagi ekonomi. Imbal hasil (yield) US Treasury 10 tahun naik melebihi 3%, tertinggi sejak Juli 2011 dn kenaikan ini diartikan sebagai indikasi awal kenaikan suku bunga. 

IHSG diprediksi bergerak menguat pada perdagangan di hari terakhir tahun 2013. Sentimen positif datang dari dalam negeri di mana Gubernur BI memprakirakan inflasi Desember akan berada di bawah 0,5% (month to month), sehingga mendorong inflasi sepanjang 2013 di bawah 8,5%. Serta, adanya potensi penguatan Rupiah di tahun 2014 yang disebabkan karena kuatnya fundamental ekonomi Indonesia seperti membaiknya defisit transaksi berjalan juga bisa menjadi faktor penguatan IHSG. Namun, hal lain yang perlu diperhatikan yaitu harga pangan bisa berpotensi mendorong inflasi di 2014, karena kebutuhan bahan pangan domestik yang sangat besar tidak akan mampu dipenuhi oleh produksi dalam negeri sehingga tetap mengandalkan impor.

Secara teknikal IHSG bergerak dalam pergerakan bullish jangka pendek dan berhasil menembus bearish cloud dari ichimoku menandakan IHSG telah bergerak diarea positif, Goldencross pada bearish trigger dan berpotensinya menjadi bullish trigge bila IHSG akan melanjutkan penguatannya diperdangan senin ini. pergerakan IHSG diprediksikan akan kembali menguat dengan range pergerakan 4203 - 4244. saham - saham yang dapat diperhatikan antara lain RALS, JSMR, AALI, ANTM, BBNI, BBRI, BSDE, SGRO.

0 comments:

Post a Comment

 
Terasbursa.com © 2013. All Rights Reserved. Powered by Blogger
Top