Mayoritas indeks saham di Asia turun pada hari perdagangan terakhir di bulan November seiring dengan berlangsungnya aksi ambil untung (profit taking) oleh investor di tengah tidak adanya acuan pergerakan indeks saham di AS yang tutup untuk merayakan hari libur nasional Thanksgiving pada hari Kamis.
Dari sisi ekonomi, data inflasi inti (Core CPI) Jepang tumbuh 0.9% (Y/Y) di bulan Oktober ke level tertinggi dalam 5 tahun, namun data ini gagal mengangkat sentimen pasar.
Sementara itu, data Industrial Production jepang tumbuh 0.5% di bulan Oktober dari bulan sebelumnya, menandakan ekspansi selama 2 bulan beruntun,
IHSG memanjat 22.5 poin (0.53%) dan di tutup di level 4256.4 sementara indeks saham Blue Chip LQ-45 merangkak naik 2.5 poin (0.36%) ke level 704.9. Untuk bulan November, IHSG anjlok 254.2 poin (-5.64%) setelah rebound 194.5 poin (4.51%) di bulan Oktober. Begitu juga dengan indeks LQ-45 yang terpuruk 49.9 poin (-6.61%) menyusul kenaikan 41.9 poin (5.88%) di bulan Oktober.
Indeks saham di Eropa menguat tipis setelah data ekonomi yang di rilis hari Jumat lalu memperlihatkan bahwa Tingkat Pengangguran zona Euro turun di bulan Oktoberdengan jumlah terbesar sejak April 2011. Tingkat Pengangguran zona Euro turun menjadi 12.1% dari 12.2%.
Sementara itu, laju inflasi tahunan tumbuh 0.9% di bulan November dari 0.7%, meskipun masih di bawah target level yang diinginkan bank sentral Eropa.
Kedua data ini meredam kekhawatiran bahwa zona Euro berisiko memasuki kembali periode deflasi sebah=gai akibat dari lemahnya permintaan konsumen dan ketatnya pengucuran pinjaman bank.
Berakhir 3 jam lebih awal dari waktu normal, indeks saham utama di Wall Street mencatatkan kenaikan bulanan untuk ketiga kalinya secara beruntun di dorong kenaikan saham peritel besar seperti ebay dan Best Buy yang terdongkrak oleh harapan bahwa musim belanja akhir tahun yang lebih baik dari tahun sebelumnya.
IHSG diprediksi bergerak mixed pada perdagangan hari ini. Investor masih menunggu sejumlah data ekonomi Amerika seperti manufaktur dan indeks kepercayaan konsumen yang akan rilis yang mana akan menjadi dorongan The Fed melakukan tapering. Jika data yang dirilis AS membaik, maka ada kemungkinan tapering makin cepat terjadi sehingga dollar menguat. Di lain sisi, tekanan nilai tukar rupiah terhadap dollar Amerika Serikat diprediksi belum bisa mereda pada Desember ini. Salah satu penyebabnya adalah utang luar negeri yang jatuh tempo jumlahnya cukup besar. Gubernur BI Agus Martowardojo, juga melihat kebutuhan dollar AS meningkat pesat di akhir tahun akibat repatriasi laba atau semacam pembagian bonus. Selain itu, ada kebiasaan dari perusahaan asing yang beroperasi di Indonesia bertransaksi memakai mata uang asal negeri Paman Sam.
Secara teknikal candle IHSG membentuk pola Piercing Line dengan potensi reversal yang cukup kuat. Momentum dari RSI, CCI, ROC dan William %R memberikan signal Bullish momentum. Indikator Stochastic memperlihatkan Golden-cross sempurna di area oversold.Dari semua indikator diatas IHSG berpeluang besar untuk melanjutkan penguatan secara teknikal. Range pergerakan IHSG diprediksikan berada pada kisaran 4219-4282 dan saham yang dapat diperhatikan ADRO, WSKT, ITMG, BWPT, CTRP, CTRS, JPFA, JSMR, WIKA, dan BBRI.
0 comments:
Post a Comment