Indeks saham di Asia melemah karena investor bersikap wait and see menjelang rilis data pasar tenaga kerja AS yang dapat menentukan apakah Federal Reserve akan mulai menarik paket stimulusnya tahun ini.
Data Non-Farm Payrolls bulan September dijadwalkan dirilis Selasa malam dengan ekspektasi sebelum penutupan aktifitas Pemerintahan, 180.000 pekerjaan terciptakan bulan lalu dan Tingkat Pengangguran stabil di 7.3%.
Banyak pengamat memprediksi the Fed mempertahankan Quantitative Easing (QE), mengingat belum diketahuinya secara pasti dampak ekonomi dari pembekuan roda Pemerintahan serta pertimbangan kemungkinan terjadinya lagi pertikaian anggaran awal tahun depan. Namun data pasar tenaga kerja yang solid dapat membantah cara berpikir seperti itu.
Harga rumah rata rata di 70 kota besar China tumbuh 9.1% (Y/Y), terbesar sejak Januari 2011. Ini memperlihatkan bahwa usaha China dalam 4 tahun terakhir untuk mengimbangi antara kontrol harga properti tanpa mematikan salah satu sektor pendorong pertumbuhan ekonomi, masih belum berhasil.
IHSG turun 65.4 poin (-1.43%) dan di tutup di level 4512.7 sementara indeks saham Blue Chip LQ-45 tersandung 15.3 poin (-1.98%) ke level 758.4. Investor asing menarik IDR1.11 triliun keluar dari pasar saham domestik.
Indeks saham di Eropa menguat menyusul data terkini pasar tenaga kerja AS yang keluar mengecewakan sehingga memperbesar harapan investor bahwa Federal Reserve akan menunda penarikan program bulanan pembelian aset.
Ekonomi AS mengisi 148,000 kesempatan kerja di bulan September, lebih rendah dari ekspektasi. Tingkat Pengangguran secara tak terduga turun menjadi 7.2% dari 7.3%.
Indeks saham utama di Wall Street berbalik arah dan ditutup pada teritori positif, dengan indeks S&P 500 mencatat rekor menembus level 1750 setelah data pasar tenaga kerja di bulan September menambah bukti bagi investor bahwa Federal Reserve akan terus menopang ekonomi dengan cara seperti sekarang ini.

0 comments:
Post a Comment