Indeks saham di Asia membuka mengawali minggu dengan kenaikan seiring meningkatnya risk appetite setelah indeks saham di Wall Street akhir minggu lalu menguat didorong oleh laporan keuangan yang solid dari sejumlah emiten dan ekonomi China yang mencatatkan rebound di Kuartal III.

Investor tampak sudah melupakan kekhawatiran atas kondisi keuangan Pemerintah AS menyusul kesepakatan diantara para elit politik untuk mengakhiri pembekuan parsial pelayanan publik selama 16 hari.

Jepang di bulan September lalu membukukan defisit neraca perdagangan selama 15 bulan beruntun dipicu melonjaknya impor bahan energi, meskipun ekspor ke China mulai rebound setelah sempat anjlok akibat terpengaruh perseteruan wilayah.

Meskipun pelemahan nilai tukar JPY biasanya memberi sentimen positif pada sektor ekspor Jepang, volume pengiriman barang ke AS bulan lalu turun karena ketidakpastian pemulihan ekonomi AS.

Impor bahan energi melonjak pasaca insiden bocornya reaktor nuklir Fukushima di 2011 yang memaksa penutupan reaktor nuklir lainnya, dimana PLTN sebelumnya menyediakan 1/3 dari pasokan listrik.

IHSG naik 31.6 poin (0.70%) dan di tutup di level 4578.2 sementara indeks saham Blue Chip LQ-45 bertambah 6 poin (0.79%) ke level 773.8. Investor asing menarik IDR36.2 miliar keluar dari pasar saham domestik.

Mayoritas indeks saham di Eropa menguat ditolong oleh kinerja finansial Philips dan SAP serta data pasr perumahan AS. Dari Eropa sendiri, data Producer Price Index (PPI) tumbuh 0.3% (M/M), melebihi estimasi tetapi turun 0.5% (Y/Y). Data Industrial Production Italia bulan Agustus tumbuh 2% dan anjlok 6.8% dibanding tahun lalu.

Indeks saham utama di Wall Street bergerak flat dan berakhir mixed setelah indeks S&P 500 kembali memecahkan rekor dan karena investor enggan menagmbil posisi menjelang rilis data pasar tenaga kerja bulan September. Penjualan rumah yang sudah pernah dihuni di AS turun 1.9% di bulan September karena kenaikan harga dan tingginya bunga KPR.

Penjualan rumah di Amerika Serikat turun 1.9% dari bulan sebelumnya, dikarenakan harga yang tinggi dan kenaikan suku bunga mortgage. Hal ini semakin memperkuat indikasi bahwa tapering akan ditunda sampai dengan tahun depan. Pasar masih menanti rilis data ketenagakerjaan di Amerika Serikat untuk mendapatkan gambaran lebih jauh mengenai perekonomian negara tersebut, data-data ketenagakerjaan akan di rilis hari ini waktu setempat.

Secara teknikal IHSG masih memiliki potensi penguatan dalam jangka pendek, dengan indikator MACD, stochastic, dan ADX mengindikasikan penguatan terbatas. Kisaran support-resistance IHSG pada 4568-4722, dengan stop loss level di 4548. Rekomendasi partial sell untuk ADRO, EXCL, speculative buy untuk MNCN, dan trading buy untuk JPFA.

0 comments:

Post a Comment

 
Terasbursa.com © 2013. All Rights Reserved. Powered by Blogger
Top