Akhir – akhir ini kita dikejutkan dengan adanya penurunan yang tajam oleh IHSG bukan berarti harga saham sedang murah atau diskon. Banyak para investor beranggap IHSG sedang turun saatnya memborong saham murah namun keesokan harinya sahamnya kembali turun. Dari pengalaman seperti ini mengingatkan kita bila ingin berinvestasi harus menglihat dari sisi makro ekonomi terlebih dahulu. Kenapa demikian? Karena pelaku investasi pada Bursa Efek Indonesia sebagian besar investor asing yang membuat pergerakan indeks dan saham di Indonesia masih mengikuti sentiment ekonomi global.

Melihat situasi makro ekonomi itu sangat penting bagi para investor besar yang cenderung long term. Untuk melihat situasi makro ekonomi tidak susah kita hanya melihat hasil data prekonomian global yang terjadi dengan menggunakan kalender ekonomi. Biasanya setiap data prekonomian yang dikeluarkan akan bisa langsung terefleksi oleh IHSG. Sebagai contoh pada bulan – bulan lalu the Fed ingin melakukan tapering data pada program stimulusnya karena prekonomian global khususnya Amerika Serikat mengalami pertumbuhan lalu paginya IHSG kita kembali melemah dan terus melemah hingga investor asing pun ikut mencabut dana investasinya pada Bursa Indonesia. Hingga kemarin berita dari Amerika Serikat keluar mengenai pembatalan tapering oleh the Fed pada program stimulus moneternya lalu paginya IHSG kita dibuka meroket hingga 7% dalam waktu 5 menit. Hal ini membuktikan pergerakan Bursa Indonesia masih memiliki pengaruh yang erat dari situasi-situasi makro ekonomi yang terjadi bukan hanya dari pengaruh kondisi dari emiten saja.


Tips untuk para teman investor bila kita ingin berinvestasi dianjurkan untuk melihat dulu dari sisi makro ekonomi tidak hanya dari perseroan / saham yang akan kita investasikan. Harga saham suatu emiten murah bukan berarti harga saham tersebut sedang diskon. Stop your loss Take your profit, Lanjar Nafi.

0 comments:

Post a Comment

 
Terasbursa.com © 2013. All Rights Reserved. Powered by Blogger
Top