Indeks aktivitas manufaktur (PMI) HSBC untuk Indonesia bulan Agustus turun hingga titik terendah dalam 15 bulan. Pelemahan ini menggambarkan penurunan permintaan domestik sekaligus kemerosotan bisnis dalam negeri.
Indeks PMI Indonesia turun menjadi 48,5 pada Agustus dari 50,7 untuk Juli, penurunan untuk empat bulan berturut-turut.
Berdasarkan keterangan HSBC pada Senin, bisnis ekspor baru tercatat menyusut dalam tiga bulan berturut-turut. Angka pesanan baru pada Agustus juga turun, kali pertama sejak Mei 2012.
“Pelemahan permintaan, baik secara domestik dan eksternal, memperlemah kondisi manufaktur pada Agustus,” sahut ekonom HSBC Su Sian Lim. Kenaikan inflasi “masih akan memperlemah permintaan domestik dalam jangka pendek.”
Menurut Lim, permintaan dari luar negeri tampaknya hanya akan membaik secara bertahap, karena kenaikan PMI periode Agustus di Cina—tujuan ekspor terbesar Indonesia—masih sedikit. Sementara itu, Lim melanjutkan, rata-rata harga bahan mentah dan produk semi-manufaktur yang dibayarkan pada Agustus meningkat. Faktor penyebabnya adalah kenaikan harga bahan bakar minyak disertai depresiasi rupiah. Nilai tukar rupiah turun sekitar 6% terhadap dolar Amerika Serikat pada Agustus.
Angka PMI di bawah 50 mengindikasikan kontraksi aktivitas manufaktur. Angka di atas 50 menggambarkan ekspansi.
Sebelumnya, pemerintah memproyeksi perekonomian tumbuh 6,5% tahun ini, laju yang sama dengan tahun lalu. Pendorong utamanya adalah kenaikan permintaan pasar dalam negeri, yang menyumbang 60% dari produk domestik bruto. Akan tetapi pertumbuhan turun menjadi 5,8% dalam kuartal II. Pelemahan itu mengindikasikan Indonesia terkena dampak pelemahan permintaan di Cina.(wsj.com)

0 comments:
Post a Comment